<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892</id><updated>2011-11-10T17:52:09.125-08:00</updated><category term='wisata sejarah'/><category term='wisata nurani'/><category term='Wisata Tokoh'/><category term='wisata pemikiran'/><category term='Suara Nurani'/><title type='text'>AnCHA El-BiLaLi</title><subtitle type='html'>Sejarah adalah cermin yang tak kan pernah menipu.Ia menampilkan realitas sebenarnya dari setiap peristiwa apa adanya
Mari bergabung bersama untuk belajar Sejarah yang lebih mencerahkan...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-9175254469334640470</id><published>2007-12-10T22:14:00.000-08:00</published><updated>2007-12-11T08:43:46.231-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Tokoh'/><title type='text'>Riwayat Hidup</title><content type='html'>&lt;h1 style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(255,0,0); TEXT-ALIGN: justify"&gt;TAN MALAKA (1897-1949)&lt;/h1&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(0,0,0); FONT-STYLE: italic; TEXT-ALIGN: justify"&gt;GERILYAWAN REVOLUSIONER YANG LEGENDARIS&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;    Tan&lt;/span&gt; &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;Malaka&lt;/span&gt; –&lt;span style="COLOR: rgb(255,102,102)"&gt;lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka—menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau. Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat—Tan Malaka dilahirkan. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,153,255)"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;   &lt;/span&gt;Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="COLOR: rgb(51,204,255); TEXT-ALIGN: justify"&gt;    Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Syarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun, pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;    Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin). Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(102,51,0)"&gt;   Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,51,153)"&gt;   Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;   Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(0,102,0); TEXT-ALIGN: justify"&gt;   Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang saangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;   &lt;/span&gt;Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;   Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah: (1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti, (2) Bersifat Indonesia sentris, (3) Futuristik dan (4) Mandiri, konsekwen serta konsisten. Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya “MADILOG” mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking”, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner.&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(255,0,0); TEXT-ALIGN: justify"&gt;    Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,153,0)"&gt;    Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,0,51)"&gt;    Semua karya Tan Malaka danpermasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,0,51)"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,0,51)"&gt;sejarahnya bukanlah cara berpikir yang “text book thinking” dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat “Naar de Republiek Indonesia”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,153,51)"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;   &lt;/span&gt;Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (“Gerpolek”-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekwen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;   &lt;/span&gt;Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="COLOR: rgb(255,0,0); TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(255,0,0); TEXT-ALIGN: justify"&gt;   Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta. Dan pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Pethok, Kediri, Jawa Timur.&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,51,204)"&gt;   Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional. (Bek)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"&gt;BERGELAP-GELAPLAH DALAM TERANG,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"&gt;BERTERANG-TERANGLAH DALAM GELAP ! (TAN MALAKA)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-9175254469334640470?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/9175254469334640470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=9175254469334640470&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/9175254469334640470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/9175254469334640470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/12/riwayat-hidup.html' title='Riwayat Hidup'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-7977482923688179264</id><published>2007-12-02T22:50:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T23:01:56.984-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata sejarah'/><title type='text'>TRAGEDI 1965 BERAWAL DARI TAHUN 1948</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;em&gt;Oleh : Asvi Warman Adam&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Menurut Anthony Reid (Revolusi Nasional Indonesia, 1996), peristiwa Madiun 1948 penting bukan hanya dari segi jumlah korban yang cukup besar pada kedua pihak, tetapi karena warisan kebencian yang ditinggalkan antara kelompok kanan (santri) dan kiri (abangan). Warisan kebencian itu yang masih tersisa dalam buku Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948 yang disunting Fadli Zon dan diluncurkan awal September 2005 di hotel Ambhara Jakarta bersamaan dengan diskusi yang digelar oleh Ridwan Saidi cs tentang peristiwa 1948 dan 1965.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span id="more-164"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Mengenai korban dari pihak santri bahkan para kiai tahun 1948 sudah sering disebut dalam buku pelajaran sejarah. Tetapi korban dari pihak kiri juga banyak sebagai-mana oleh Roeslan Abdulgani (Casperr Schuuring, Roeslan Abdulgani, Tokoh Segala Zaman, 2002). Roeslan menyaksikan pengadilan tidak resmi yang dilakukan oleh tentara. Beberapa orang dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi di depan mata Roeslan. Malamnya menurut Roeslan ia menangis keras. Demikian pula mantan Perdana Menteri Amir Syaridudin ditembak mati bersama beberapa tokoh kiri lainnya lainnya tanpa melalui pengadilan. begitu tega memakan anak-anaknya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Di luar dua pandangan dari kutub ekstrem yakni kalangan militer (”Peristiwa Madiun 1948 adalah pengkhianatan PKI”) dan kelompok kiri (”Peristiwa Madiun 1948 adalah provokasi Hatta”), sudah muncul suara lain yang lebih jernih seperti Hersri Setiawan. Hersri sastrawan Lekra yang sempat bermukim di negeri Belanda, mempertanyakan apakah peristiwa Madiun itu “coup d’etat” atau “coup de ville”, upaya perebutan kekuasaan secara nasional atau hanya perlawanan pada tingkat kota/daerah ? (Negara Madiun ?, terbit 2002 dan dicetak ulang dengan revisi tahun 2003). Sudah diterjemahkan tulisan David Charles Anderson yang menyoal apakah peristiwa Madiun itu lebih tepat dilihat sebagai persoalan intern tentara (2003). Skripsi yang bagus dari Soe Hok Gie, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Kisah Pemberon-takan Madiun 1948 (terbit 1997) juga membahas persoalan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Arsip Rusia mengenai aspek ini sudah dimanfaatkan oleh Larissa Efimova dalam artikelnya “Who gave instructions to Indonesian Communist Leader Muso in 1948″. Madiun 1948 tidak ada hubungan dengan Moscow. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Yang menarik adalah sebuah disertasi yang sedang ditulis oleh mahasiswa Indonesia pada School of Politics, University of Nottingham, Inggris yang mencoba melihat tragedi 1965 itu sebagai pertentangan kelas. Kelas priyayi (diwakili oleh tentara) bersekutu dengan santri dalam perseteruan melawan dan menghancurkan kelas abangan (komunis). Sebagian komandan tentara yang membasmi G30S/1965 adalah juga prajurit yang sudah berperan sama tahun 1948. Keterlibatan Banser NU dalam pengganya-ngan G30S/1965 antara lain karena tahun 1948 kerabat mereka termasuk korban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Dimensi geografis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bila sebelumnya tragedi 1965 seakan hanya berlangsung di pulau Jawa, maka kini sudah mulai terbit buku-buku tentang dampak peristiwa tersebut di daerah. Pembantaian di Bali tahun 1965 disinggung dalam buku I Ngurah Setiawan (Bali, Narasi dalam Kuasa, 2005). Dua artikel mengenai masalah 1965 di Nusa Tenggara Timur yang masing-masing ditulis Paul Webb dan Steven Farram diterjemahkan dan disatukan dalam sebuah buku “Di-PKI-Kan, Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur”. Dampak tragedi 1965 terhadap perempuan di Sumatera Barat ditulis oleh Yenny Narni, dosen sejarah Universitas Andalas Padang. Pembantaian di daerah Painan dilaporkan oleh Bakry Ilyas (alm). Sudah ada artikel lepas mengenai peristiwa 1965 di Sumatera Selatan antara lain ditulis seorang eksil di Swedia. Pengalaman seorang tapol di Sumatera Utara sudah terbit tetapi laporan secara menyeluruh mengenai daerah ini tampaknya belum dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Dipersembahkan kepada seluruh Korban Rezim Jenderal Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-7977482923688179264?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/7977482923688179264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=7977482923688179264&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/7977482923688179264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/7977482923688179264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/12/tragedi-1965-berawal-dari-tahun-1948.html' title='TRAGEDI 1965 BERAWAL DARI TAHUN 1948'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-4166279311982310426</id><published>2007-11-14T19:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-14T19:28:54.591-08:00</updated><title type='text'>profil Hassan Al-Banna</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Hassan&lt;/span&gt; Al-Banna merupakan reformis sosial dan politik Mesir yang terkenal sebagai pengasas gerakan Jamiat al-Ikhwan al-Muslimun. Hassan al Banna dilahirkan pada Oktober 1906 di desa al-Mahmudiyyah di daerah al-Bahriyyah, Iskandariah, Mesir (barat laut Kaherah). Beliau berasal dari sebuah perkampungan petani yang terkenal kuat mentaati ajaran dan nilai-nilai Islam, serta keluarga ulama yang dihormati.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Ayahnya, Syeikh Ahmad bin Abdul Rahman al-Banna, merupakan seorang ulama, imam, guru dan seorang pengarang terkenal, lulusan Universitas Al-Azhar, yang menulis dan menyumbang tulisan di dalam kitab-kitab hadits dan fiqh perundangan Islam dan juga memiliki kedai memperbaiki jam dan menjual gramophone. Syeikh Ahmad bin Abdul Rahman al-Banna turut mengkaji, menyelidik dan mengajar ilmu-ilmu agama, seperti tafsir al-Qur'an dan hadits kepada penduduk tempatan, dan dia banyak dipengaruhi oleh fikrah serta cita-cita perjuangan Syeikh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin al-Afghani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Sungguhpun Syeikh Ahmad al-Banna dan isterinya memiliki sedikit harta, mereka bukannya orang yang kaya sebagaimana yang lain, mereka mendapati bahwa pendidikan Islam dan kealiman seseorang tidak lagi dihargai di ibu negara itu, dan hasil kerja tangan mereka tidak mampu menyaingi industri besar-besaran (Mitchell 1969, 1; Lia 1998, 22-24).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, beliau menjadi pemimpin badan Latihan Akhlak dan Jemaah al-Suluka al-Akhlaqi yang dikelolakan oleh gurunya di sekolah. Pada peringkat ini beliau telah menghadiri majlis-majlis zikir yang diadakan oleh sebuah perkumpulan sufi, al-Ikhwan al-Hasafiyyah, dan menjadi ahli sufi pada tahun 1922 (Mitchell 1969, 2; Lia 25-26). Melalui perkumpulan ini beliau berkenalan dengan Ahmad al-Sakri yang kemudian memainkan peranan penting dalam organisasi Ikhwan Muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ketika berusia tiga belas tahun, Hassan al Banna ikut mengambil peranan semasa revolusi di Mesir pada tahun 1919 menentang pemerintahan Inggris. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(Mitchell 1969, 3; Lia 1998, 26-27). Pada tahun 1923, pada usia 16 tahun dia memasuki Dar al 'Ulum, sekolah latihan guru di Kaherah. Kehidupan di ibu negara menawarkannya aktivitas yang lebih luas bila dibandingkan di kampung, dan peluang bagi bertemu dengan pelajar Islam terkemuka (kebanyakannya dengan bantuan kenalan ayahnya), tetapi dia amat terganggu dengan kesan kebaratan yang dilihatnya di sana, terutamanya peningkatan arus sekuler seperti partai-partai politik, perkumpulan sastrawan dan perkumpulan-perkumpulan sosial sekuler terdorong ke arah melemahkan pengaruh Islam dan meruntuhkan nilai moral tradisional. (Mitchell 1969, 2-4; Lia 1998, 28-30)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia turut kecewa dengan apa yang dilihatnya sebagai kegagalan sarjana Islam di Universitas al-Azhar untuk menyuarakan keprihatinan mereka dengan peningkatan atheisme dan pengaruh pendakwah Kristian. (Mitchell 1969: 5). Beliau kemudian menjadi anggota organisasi Jama'atul Makram al-Akhlaq al-Islamiyyah yang giat mengadakan ceramah-ceramah Islam. Melalui organisasi ini, Hasan al-Banna dan rekan-rekannya menjalankan dakwah ke seluruh pelosok negeri, di kedai-kedai kopi dan tempat-tempat perhimpunan orang ramai. Pada tahap inilah beliau bertemu dan mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh Islam terkenal seperti Muhibbuddin al-Khatib, Muhammad Rashid Rhido, Farid Wajdi dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di tahun akhirnya di Dar al-'Ulum, dia menjadi "penasihat dan guru" bagi golongan dewasa dan kanak-kanak, agar dapat mengajar mereka "agama dan sumber kegembiraan dan keriangan dalam kehidupan". Dia mendapat ijazah guru pada tahun 1927 dan diberikan pekerjaan sebagai guru bahasa Arabdi sekolah rendah kebangsaan di Isma'iliyya, yang terletak di Zon Terusan Suez (Mitchell 1969: 6). Hassan al-Banna dikemudian hari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi deklarator gerakan Ikhwanul Muslimin di bandar Ismailiyyah pada Maret 1928. Ketika itu beliau berusia 23 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 51, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-4166279311982310426?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/4166279311982310426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=4166279311982310426&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/4166279311982310426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/4166279311982310426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/11/profil-hassan-al-banna.html' title='profil Hassan Al-Banna'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-3139545551199125272</id><published>2007-10-23T00:01:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T00:24:27.665-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata nurani'/><title type='text'>TERLALU</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Terlalu banyak orang-orang yang nakal dengan kenakalannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mencoba mendikte arti sebuah kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Padahal ia hanya seonggok sampah yang menyebarkan bau yang tak sedap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Memberikan ilusi hanya sekedar ilusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mungkin ia ingin memberikan tipuan kecil yang membuat orang lain tertawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tapi tidak untuk siapa pun yang mencoba menari di dalam riak-riak kegelisahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Berlagak penguasa yang memiliki kekuasaan demi kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dunia hanya diam tanpa kata ketika ia berdusta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ternyata, masih banyak manusia-manusia yang suka memakai topeng kemunafikan&lt;br /&gt;Namun, lebih banyak lagi manusia-manusia bodoh yang diam dengan kebodohannya&lt;br /&gt;Kemunafikan...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kemunafikan yang semakin menjadi-jadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tak lekang oleh empati dan harga diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Diam, seolah tak berdosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tengah hari, saat semua mata terpejam, kegelisahan semakin menjadi-jadi.Ku lihat, para pengemban kebenaran yang seharusnya benar, menjadi manusia-manusia nakal dengan kenakalannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-3139545551199125272?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/3139545551199125272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=3139545551199125272&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/3139545551199125272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/3139545551199125272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/terlalu.html' title='TERLALU'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-3858602360499840000</id><published>2007-10-22T23:50:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T23:55:08.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Tokoh'/><title type='text'>Pramodya Ananta Toer</title><content type='html'>Saya termasuk orang yang kurang beruntung mengenal Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disingkat Pram). Mungkin saya hanya salah seorang dari sekian banyak generasi muda Indonesia yang mengalami nasib sama: terhambat membaca karya-karya Pram. Jamak diketahui, iklim pendidikan dan politik selama Orde Baru tidak memberi celah sedikit pun untuk bisa menikmati karya-karya Pram. Indonesia adalah rumah kaca Orde Baru, dan Pram adalah musuh yang senantiasa diintai untuk dibantai.&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-3858602360499840000?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/3858602360499840000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=3858602360499840000&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/3858602360499840000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/3858602360499840000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/pramodya-ananta-toer.html' title='Pramodya Ananta Toer'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-4768011718225338467</id><published>2007-10-22T23:40:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T00:19:51.877-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Tokoh'/><title type='text'>Hassan Hanafi</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hassan hanafi adalah Guru Besar pada fakultas Filsafat Universitas Kairo. Ia lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, di dekat Benteng Salahuddin, daerah perkampungan Al-Azhar. Kota ini merupakan tempat bertemunya para mahasiswa muslim dari seluruh dunia yang ingin belajar, terutama di Universitas Al-Azhar. Meskipun lingkungan sosialnya dapat dikatakan tidak terlalu mendukung, tradisi keilmuan berkembang di sana sejak lama. Secara historis dan kultural, kota Mesir memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban besar sejak masa Fir’aun, Romawi, Bizantium, Arab, Mamluk dan Turki, bahkan sampai dengan Eropa moderen. Hal ini menunjukkan bahwa Mesir, terutama kota Kairo, mempunyai arti penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan Hanafi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-4768011718225338467?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/4768011718225338467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=4768011718225338467&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/4768011718225338467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/4768011718225338467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/hassan-hanafi.html' title='Hassan Hanafi'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-8780821748571055707</id><published>2007-10-22T23:37:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T23:39:34.594-07:00</updated><title type='text'>Tidak Etis Umumkan Temuan</title><content type='html'>&lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="95%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;color:#cc0000;"&gt;&lt;b&gt;       Rabu, 03 November 2004      &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td height="6"&gt;&lt;spacer type="block" height="6"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td bgcolor="#8f8f8f" height="1"&gt;&lt;spacer type="block" height="1"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td height="15"&gt;&lt;spacer type="block" height="15"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td&gt;      &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:Red;"&gt;Tidak Etis Umumkan Temuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Liang Bua Tanpa Libatkan Indonesia&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Jakarta, Kompas - Tidak etis hasil penelitian manusia kerdil dari Liang Bua alias Homo floresiensis diumumkan oleh peneliti Australia tanpa keterlibatan dan kehadiran peneliti dari Indonesia. Kerja sama penelitian itu seharusnya menguntungkan dan tidak sekadar memperlakukan Indonesia dengan kekayaan tinggalan budayanya sebagai lahan garapan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Demikian kegusaran arkeolog Mundardjito, Ingrid HE Pojoh, dan Edi Sedyawati ketika dihubungi secara terpisah, Selasa (2/11). Sebelumnya, kelompok peneliti Australia mengumumkan dalam sebuah jumpa pers di Sydney tentang temuan di Liang Bua, Flores, yang merupakan kerja sama Australia dengan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sejumlah koran besar, seperti Herald Tribune, New York Times, USA Today, The Asian Wall Street Journal, dan surat kabar nasional memuat berita temuan itu. Arkeolog RP Soejono yang membidani kerja sama dua negara dalam penelitian bahkan mengeluh karena tiba-tiba saja Australia mengumumkan penelitian, yang menurutnya belum sepenuhnya tuntas itu, tanpa kehadiran seorang pun peneliti Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Mundarjito mengungkapkan, kerja sama seharusnya diatur agar menguntungkan kedua belah pihak. Dengan caranya tersebut, Australia terkesan tidak etis. Liang Bua merupakan situs cagar budaya milik negara dan mendapat perlindungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Seharusnya negara tidak dirugikan, termasuk dalam hal publisitas. Bahkan, ketua tim peneliti semestinya dari negara tempat obyek penelitian. Selain itu, setiap ada wawancara, peneliti dari Indonesia yang berbicara," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kasus Liang Bua menggambarkan betapa rendahnya posisi tawar peneliti di negeri sendiri. Hal itu antara lain dikarenakan semakin sedikitnya kepakaran bidang arkeologi. Dengan adanya kebijakan zero growth, tenaga doktor yang memadai menipis karena banyak yang pensiun. Selain itu, dana penelitian yang disediakan pemerintah pun sangat minim sehingga bantuan dari luar negeri dirasa penting.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Mundardjito mengingatkan, benda-benda cagar budaya itu bagian dari jati diri bangsa, sumber budaya nasional. "Jangan sampai orang belajar kekayaan bangsa kita justru dari orang asing atau negeri lain," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Harus sejajar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pendapat serupa dilontarkan Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia Ingrid HE Pojoh. "Saya tidak tahu bagaimana perjanjian di antara kedua belah pihak sehingga Australia dapat mengumumkan tanpa didampingi peneliti Indonesia. Kalau itu kerja sama, setiap langkah seharusnya dengan sepengetahuan kedua belah pihak serta dilakukan bersama," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Bisa jadi, dari segi pembiayaan Australia berperan besar, tetapi dia mempertanyakan keetisan peneliti Australia bertindak demikian. Sebagai pemilik aset budaya itu, kejadian tersebut menyinggung kebanggaan nasional kita sebagai orang Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Secara terpisah, arkeolog Edi Sedyawati mengatakan, dalam setiap kerja sama, kedudukan kedua pihak harus sejajar mulai dari perencanaan hingga publikasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Ini harus dimengerti oleh para pejabat terkait dan peneliti karena pihak luar negeri pasti akan mencari celah-celah. Oleh karena itu, perlu kekompakan para peneliti," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Dia juga mengingatkan agar hasil galian yang diteliti sebisa mungkin tidak lari keluar negeri. Seandainya peralatan tidak mencukupi dan terpaksa dikirim ke laboratorium di luar negeri, harus ada perjanjian yang tegas dan jelas tentang pengembaliannya. (INE)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-8780821748571055707?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/8780821748571055707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=8780821748571055707&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/8780821748571055707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/8780821748571055707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/tidak-etis-umumkan-temuan.html' title='Tidak Etis Umumkan Temuan'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-3560322149782609881</id><published>2007-10-22T21:06:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T00:26:51.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata pemikiran'/><title type='text'>Mekanistik Manusia</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: times new roman,new york,times,serif; font-size: 12pt;"&gt;  &lt;h2 style="text-align: center;" align="center"&gt;Mekanistik Manusia&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atheis Adalah Sesempurna-sempurnanya Iman&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perbincangan malam ini sungguh memilukan, karena yang ikut bergabung hanya beberapa orang. Perbincangan  yang mungkin saja dianggap tidak penting, tidak berguna, atau boleh jadi tidak ingin dimengerti. Inilah fakta umat saat ini, ketika berbicara tentang diri mereka sendiri (setiap muslim adalah satu tubuh) pun mereka enggan. Apalagi jika itu bukan yang menyangkut diri mereka. Padahal, setiap potongan masalah dari kehidupan ini pasti ada sumbangan noktah-noktah problematika kita. Pasti ada sumbangan kita walau setetes pada resultan historis dunia saat ini. Ya, itu semua karena kita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;makhluk&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mekanistik&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Makhluk mekanistikkah manusia? Itu adalah thesis yang dipertanyakan. Saya meyakini bahwa jawaban thesis itu 100% benar. Apakah saya memiliki alasan untuk mengatakan tidak benar? Tentunya tidak ada. Awal dari alasan saya adalah bahwa manusia merupakan resultan dari gaya-gaya, dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stimuli-stumuli&lt;/span&gt;, dari fenomena-fenomena, dari pengalaman-pengalamannya setiap detik, setiap hembusan nafas, bahkan di era konsepsinya di dalam rahim si ibu. Jadi, setiap manusia adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;unik&lt;/span&gt;. Setiap manusia akan terbentuk sesuai dengan apa yang diterimanya. Tidak akan ada yang bergeser dari kehidupannya, melainkan akibat dari stimuli yang didapatkannya selama hidup. Sehingga dapat kita katakan bahwa manusia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;terprediksi&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;Muncul pertanyaan, bagaimana dengan konsep bahwa manusia bisa menentukan nasibnya? Manusia bukanlah kardus yang jika ia diberi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gaya beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Newton&lt;/span&gt;, ia akan bergeser sesuai dengan gaya yang diberikan tersebut. Hal ini terjadi karena manusia memiliki akal. Manusia memang bisa menentukan pilihan, tetapi bagaimana ia menentukan sesuatu itu, didapatkannya dari pengalaman-pengalamannya sebelumnya. Dengan kata lain, ia bisa berpikir seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu karena resultan-resultan stimuli tadi yang membentuknya seperti itu. Artinya, setiap manusia memiliki potensi yang berbeda-beda untuk bereaksi, dilihat dari resultan stimuli yang membentuknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berbeda dengan kardus yang secara potensi sama, sehingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika kardus yang memiliki kualitas yang sama jika diberikan input yang sama, maka output yang diberikan oleh kardus sama juga adanya. Akhirnya, bisa dijelaskan manusia tidak punya wewenang apa-apa dalam hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;Konsep Newtonian ini semakin terbukti keshahihannya ketika ada pertanyaan mengapa ada seseorang yang tidak mengalami apa-apa padahal suatu musibah telah menimpa dirinya. Harap diingat bahwa gaya yang yang terlalu kecil tidak akan berpengaruh signifikan terhadap resultan gaya sebelumnya. Begitu juga seseorang, hanya dapat berubah jika gaya yang diberikan padanya cukup besar atau kontinuitasnya tinggi. Tapi, dengan fenomena tadi tidak bisa dengan mudah dikatakan manusia tidak bisa merubah keadaannya. Ada suatu ketika dalam hidup manusia, resultan stimulinya yang akhirnya membentuk bongkahan kognisi yang akhirnya mampu untuk memilih sendiri stimuli mana yang harus dipilih atau yang diterima. Tentu saja hal ini akan terjadi jika resultan-resultan gaya kognisinya menggiringnya melakukan itu. Jika resultan yang ia miliki belum cukup maka ini tidak akan terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;Konsep mekanistisnya manusia ini semakin menarik jika kita akhirnya beranjak pada pengukuran dan pemerediksian manusia. Sejenak kita akan mengetahui sangat sulit memprediksi manusia. Sebuah ketidakkonsistenan memang, di satu sisi dikatakan manusia tersusun atas rangakaian vektor-vektor pengalaman yang sudah pasti dapat diukur tapi di lain sisi pengukuran itu sungguh sulit dilakukan karena resultan vektor yang terjadi sangat rumit. . Ketidakmampuan ini sebenarnya terjadi karena hingga saat ini kita belum mampu mendeteksi besar dan arah vektor-vektor stimuli tadi. Andai saja kita bisa mendeteksinya maka dapat diasumsikan bahwa manusia akan bisa diprediksi tindakannya. Tentu saja bukan dalam hitung-hitungan yang sederhana karena ada jutaan variabel yang harus diperhitungkan. Hal ini terjadi karena resultan vektor-vektor tadi dibentuk sepanjang detik-detik hidupnya, mungkin itu yang selamanya ini kita sebut akal. Jadi, manusia sekarang menyatakan manusia tidak bisa diprediksi karena memiliki akal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;Padahal pemerediksian ini sebenarnya bisa, hanya karena resultan tadi sudah sangat banyak dipengaruhi vektor-vektor yang beraneka ragam sehingga seolah-olah ia tidak bisa diprediksi. Ini bisa dibuktikan dengan membandingkan tingkah laku bayi dengan manusia dewasa, bayi pasti akan lebih mudah diprediksi responnya dibandingkan manusia dewasa. Hal ini tentu saja disebabkan resultan vektor pada bayi masih sederhana. Sehingga peluang untuk ia bisa diprediksi semakin besar. Kesimpulannya hubungan antara prediksi respon manusia dengan resultan vektornya berkorelasi negatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;Perbincangan ini akhirnya semakin menyadarkan kita bahwa mungkin saja keatheisan seseorang disebabkan oleh resultan-resultan tadi. Andai saja itu diarahkan pada kita, bisa jadi kita akhirnya menjadi atheis. Kuat dugaan saya, bahwasanya kita hanya beriman kepada Tuhan karena lingkungan kita memang mendukung kita untuk menjadi Theistik. Di sini, yang menjadi persoalan bukan siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi siapa yang lebih baik pemahamannya tentang apa yang dipercayainya. Terus terang, dua sikap ini, atheis maupun theis, hanyalah persoalan keberimanan atau kepercayaan belaka. Bisa jadi, seorang atheis jauh lebih beriman dari pada orang beriman (kepada Tuhan), andai saja ia terus mencari kebenaran yang sejati untuk meyakinkan dirinya akan kepercayaan yang telah dipilihnya. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penulis adalah Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; color: rgb(166, 166, 166);font-size:12;" &gt;Muhammad Akhyar, tengah malam Ramadhan di Sawangan, 22 september 2007 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-3560322149782609881?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/3560322149782609881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=3560322149782609881&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/3560322149782609881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/3560322149782609881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/mekanistik-manusia.html' title='Mekanistik Manusia'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-2420698181751081841</id><published>2007-10-10T20:24:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T21:00:05.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Nurani'/><title type='text'>Buruh Bergerak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          &lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  S&lt;/span&gt;etiap represi (dalam bidang apa pun) akan selalu memunculkan resistensi. Sebuah (dominasi) kekuasaan yang represif dalam realitas sejarah selalu saja akan berimplikasi bagi munculnya perlawanan atas tipologi kekuasaan tersebut. Artinya, sejarah selalu menjadi saksi betapa kekuasaan yang melakukan proses dominasi atas yang dikuasai, terutama melalui tindakan yang represif, akan menghadirkan pula berbagai resistensi yang dilakukan seseorang atau komunitas yang mendapat perlakuan represif dan hegemonik oleh kekuasaan (Santoso dkk, 2003:29). Buruh 'bergerak' adalah salah satu bentuk perlawanan tersebut.&lt;br /&gt;            Buruh bergerak adalah realitas yang tak kan kunjung redup, ketika hegemoni lebih menonjolkan bahasa kekuasaan dalam kekuasaannya. Kontra-hegemoni yang senantiasa dilakukan oleh buruh merupakan suatu bentuk kristalisasi dari kejenuhan yang kerap dirasakan. Penindasan dan ketidakadilan yang selalu dirasakan oleh buruh merupakan 'perselingkuhan' yang kerap menjadi aktivitas penguasa dengan para pemilik modal, yang selalu bersembunyi di balik sistem yang cenderung tidak memihak. Sistem yang memiliki celah untuk dimanipulasi juga menjadi penyebab bagi ketertindasan yang dirasakan oleh buruh.&lt;br /&gt;            Hassan Hanafi, seorang filsuf berkebangsaan Mesir yang mengenyam pendidikan di Perancis secara kritis berupaya membongkar penindasan manusia atas manusia melalui pemesinan manusia melalui produksi. Manusia dengan nama buruh dijadikan kerbau yang harus patuh kepada tuannya. Jam kerja cenderung mengambil nilai lebih tanpa tambahan upah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh mereka yang merasa berkuasa. Singkatnya, buruh 'tersisih dari kehidupan yang layak bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu, dimensi pembebasan harus senantiasa digulirkan untuk memajukan kondisi buruh yang termarginalkan. Buruh harus terus berggerak untuk kemudian melepaskan diri dari jerat yang kerap membelenggu, demi terwujudnya rasa keadilan. Bukan saatnya lagi buruh hanya bisa melakukan aksi-aksi demontrasi, sehingga pada akhirnya juga belum dapat menghadirkan angin segar bagi kesejahteraan buruh.&lt;br /&gt;            Format baru harus segera dicari untuk mengatasi hal ini. Banyak, tetapi seperti buih di lautan, bukanlah tipikal buruh yag saat ini haus ditonjolkan. Persatuan buruh atas nama idealisme perlawanan buruh tidak boleh lagi terkotak-kotak dengan berbagai bendera organisasi yang membelenggu pergerakannya. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;LAWAN dan BERSATULAH&lt;/span&gt;, demi satu asa yang menjadi impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;            Lebih baik terasing daripada menyerah kepada kemunafikan.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;            Kami bersertamu Orang-orang yang malang......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;            (Soe Hok Gie)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-2420698181751081841?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/2420698181751081841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=2420698181751081841&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/2420698181751081841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/2420698181751081841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/buruh-bergerak.html' title='Buruh Bergerak'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-1962445654634436463</id><published>2007-10-09T21:29:00.000-07:00</published><updated>2007-10-09T22:19:01.848-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata nurani'/><title type='text'>Menikmati Keimanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold;"&gt;Menikmati Keimanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Siang&lt;/span&gt; itu, suhu udara begitu panas. Hamparan pasir seakan-akan luas tak berujung. Seolah-olah, matahari berada tiga jengkal jari-jemari. Tubuh tak dapat menahan rasa panasnya mentari yang seakan tak bersahabat. Lebih parahnya lagi, hembusan angin yang mengalir, tak dapat banyak memberikan kesejukan yangs angat diharapkan. Ia malah menjadi pembalut panas bagi tubuh yang sudah mulai melemah.&lt;br /&gt;    Tubuh itu sepertinya tak kuasa lagi menahan panas. Entah berapa kali ia merebah di atas tumpukan pasir panas. Sesekali ia mencoba untuk bangun, namun saat itu juga ia kembali merebah. Sayatan demi sayatan panasnya matahri semakin menjadi-jadi.Tubuh yang memang hitam itu semakin hitam, hingga tak dapat lagi dapat dibedakan antara  batu hitam yang menghimpit, dengan tubuh yang semakin melemah itu.&lt;br /&gt;    Namun, di tengah-tengah suasana perih itu, terdapat sebuah harapan baru yang mencoba senantiasa menyapa. Ia bukan malah menyesali. Senyum di bibirnya menyiratkan hal itu. Dari bibir keringnya, terucap sebuah kata yang bukan hanya sebuah kata. Sebuah kata yang kemudian memiliki makna yang teramat dalam. Dengannya, panas matahari dan tumpukan batu yang menghimpit tak menjadi sebuah persoalan, walaupun berulang kali tubuhnya merebah.&lt;br /&gt;    Melihat hal ini, manusia-manusia durjana yang berada di sekelilingnya serta merta menjadi terheran-heran, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Seharusnya ia sudah mati dari tadi", &lt;/span&gt;ungkap salah seorang di antara mereka. Sebuah peristiwa yang tak pernah disangka sebelumnya. Rencana jahat yang telah disusun, dan akan berakhir dramatis dan eksotis serta penuh dengan nilai-nilai cinta yang sejati.&lt;br /&gt;    Sementara itu, tubuh hitam itu kembali bangkit, tetapi berulang kali juga terlelap oleh panasnya matahari. Namun, bibir pemuda itu yang semakin kering, tidak pernah berhenti untuk mengucapkan kata-kata yang sangat dibenci oleh para manusia durjana di sekelilingnya. Pengaruh kata-kata itu begitu kuat, hingga ia menjadi kekuatan untuk bertahan menghadapi gelombang ketidakadilan yang saat itu dihadapinya.&lt;br /&gt;    Sosok hitam itu adalah seorang pemuda yang dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, mencoba untuk mempertahankan keyakinan yang ia yakini kebenarannya. Seorang budak hitam yang di kemudian hari dikenal sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yang telah mendapat garansi setapak atau bahkan lebih hamparan surga yang luasnya tak dapat terkatakan lewat kata dan terpikirkan oleh logika. Ia sepertinya menikmati setiap siksaan yang ditujukan kepada setiap lekuk tubuh hitamnya. Ia tetap tegar dengan segala keterbatasan yang ada. Akhirnya, ia dilepaskan dengan jaminan oleh Abu Bakar.&lt;br /&gt;    Kebebasan dan keduniaan yang ia peroleh setelah pengalaman itu, ternyata tidak serta merta menjadikan dirinya berubah. Ia masih tetap memiliki komitmen yang kuat terhadap keyakinannya. Ketika ia ditanya mengenai kapan ia menikmati manisnya keimanan, ia bukan menjawab ketika ia dibebaskan dengan jaminan sehingga ia menjadi manusia yang merdeka. Ia juga bukan menjawab ketika ia menjadi gubernur dan menjadi pendamping seorang wanita yang sangat cantik. Tetapi dengan tegas ia menjawab, bahwa ia menikmati manisnya keimanan, ketika ia dihimpit oleh batu besar dan dijemur di bawah panasnya matahari. Betapa luar biasanya kehidupan manusia yang dibimbing langsung oleh Rasulullah, sang Nabi mulia, nabi akhir zaman. Semoga Allah SWT memberikan predikat dan tempat yang terbaik bagi mereka, dan kita menjadi orang-orang yang senantiasa mengikuti mereka. Wallahu 'alam......&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-1962445654634436463?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/1962445654634436463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=1962445654634436463&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/1962445654634436463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/1962445654634436463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/menikmati-keimanan.html' title='Menikmati Keimanan'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8217757117911882892.post-9208587043359405912</id><published>2007-10-08T21:24:00.000-07:00</published><updated>2007-10-08T22:15:36.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata sejarah'/><title type='text'>militerisme sejarah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;Militerisme Sejarah di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Oleh : Yopi Rachmad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Barisan barikade panser berjalan dengan kesombongan. Aroma keangkuhan sangat terasa dari serombongan tentara yang menjadikan panser sebagai ‘perisai’ ketika mereka memasuki &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; di belahan timur Pulau Jawa. Wajah-wajah tak memiliki belas kasihan tampak dari rona wajah mereka yang haus dengan darah manusia. Mereka terlihat sangat mencintai ketidakadilan. Melihat hal ini, serombongan pemuda nasionalis menganggap hal ini sebagai aksi yang mengganggu jalannya sebuah proses pembebasan, atas negeri yang baru saja diproklamasikan, oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai perwakilan dari segenap elemen bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Di belahan bumi nusantara lainnya, kekerasan menjadi bahasa yang dianggap efektif untuk mencapai sebuah kesepakatan. Penentuan siapa pihak yang menang dan siapa yang kalah selalu menggunakan logika kekerasan dan kebencian. Tak urung, perlawanan pun bergejolak sebagai reaksi atas tindakan tak bersahabat para tentara sekutu, dan kota Medan pun dijadikan sebagai basis perlawanan terhadap kolonialis yang mencoba untuk sedikit ingin bermain-main dengan para kaum nasionalis yang sangat mendambakan kemerdekaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Fragmen di atas merupakan beberapa realitas yang selama ini menjadi sketsa sejarah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sejarah yang dipenuhi oleh serangkaian perlawanan bersenjata, antara pihak kolonialis dengan para pejuang. Pihak kolonialis berperan sebagai penjahat dan para pejuang sebagai pahlawan. Sebuah identitas yang coba dibangun untuk memberikan porsi lebih kepada sejarah dalam konteks militer atau militerisme sejarah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Cerita kepahlawanan yang heroik diasumsikan sebagai perjuangan yang berdarah-darah. Mereka yang menemui ajal pun akhirnya disebut sebagai pahlawan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Fenomena ini menggambarkan betapa sejarah nasional saat ini lebih diwarnai oleh aksi-aksi militer yang dibingkai dengan nilai-nilai patriotisme. Perjuangan untuk melahirkan Negara Republik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;identik dengan perjuangan para ponggawa militer. Mereka berjibaku dengan lantang, sehingga peran mereka dalam pergerakan nasional patut diberikan apresiasi yang menawan, dan hal ini menjadi stempel pembenaran bahwa untuk melahirkan negeri ini, perjuangan dilakukan hanya dengan senjata, dan militer memiliki peran yang dominan, sehingga adalah wajar apabila militer memiliki hak untuk dapat berperan lebih di Indonesia, dan itu terwujud melalui pelaksanaan &lt;i style=""&gt;dwifungsi &lt;/i&gt;ABRI pada masa orde baru. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan penulisan sejarah yang lebih mengarah kepada &lt;i style=""&gt;militerisme sentris an sich&lt;/i&gt;, peran para martir sipil yang rela mengorbankan nyawanya di tengah-tengah geliat perjuangan kemerdekaan Republik ini dikesampingkan. Mereka dianggap tidak ada atau bahkan mungkin saja sengaja dihilangkan dari khazanah penulisan sejarah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mereka menjadi manusia-manusia yang lelah tanpa pamrih – walaupun mereka tidak pernah mengharap pamrih – di pinggiran jalan penulisan sejarah panjang bangsa ini. Sebut saja peran orang-orang yang bertugas untuk menyampaikan surat-surat, dengan ancaman kehilangan nyawa yang mungkin ia dapatkan, mereka terus-menerus mengayuh sepedanya untuk menyampaikan atau pun menahan surat-surat yang membahayakan perjuangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Lain lagi halnya dengan wartawan-wartawan yang sibuk dengan aktivitas peliputan di tengah-tengah kancah pergerakan. Tanpa mereka, geliat perjuangan kemerdekaan di negeri ini tidak akan diketahui dunia internasional, sehingga Negara-negara lain yang lebih dahulu menikmati kemerdekaan, seperti Mesir dan India, memberikan dukungannya kepada Republik ini.&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;        Ada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt; satu hal yang fatal apabila hal ini terus berlanjut, bahwa generasi muda kita akan kehilangan sebahagian sejarahnya. Mereka tidak akan pernah mengenal dan memahami bahwa perjuangan bangsa ini tidak hanya melalui peran militer &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: times new roman;"&gt;an sich&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;. Mereka tidak akan mengenal seorang tokoh seperti Tan Malaka dan Alimin Prawirodirdjo yang pada tahun 1963 dan 1964, diangkat sebagai pahlawan nasional. Namun, dalam buku Album Pahlawan Bangsa terbitan Mutiara Sumber Widya (2001), dengan kata sambutan direktur Urusan Kepahlawanan, Departemen Sosial, serta direktur Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di antara 109 pahlawan (yang mulai diangkat 1959 sampai 2001), nama mereka dihilangkan. Mereka adalah orang-orang yang juga memiliki jasa yang sesuai dengan defenisi Pahlawan menurut &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Peraturan Presiden No 33 Tahun 1964, dan tugas kita adalah menggambarkan sejarah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan, kordinator History Study Club (HSC)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;pre style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8217757117911882892-9208587043359405912?l=elbilali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elbilali.blogspot.com/feeds/9208587043359405912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8217757117911882892&amp;postID=9208587043359405912&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/9208587043359405912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8217757117911882892/posts/default/9208587043359405912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elbilali.blogspot.com/2007/10/militerisme-sejarah.html' title='militerisme sejarah'/><author><name>Yopi Rachmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01219794827952466637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
